Buku ini hadir sebagai upaya saya untuk mengajak pembaca menjelajahi dan merefleksikan ulang hubungan antara seni dan agama, yang kerap kali dianggap tidak relevan di zaman modern. Saya berharap, melalui pembahasan yang lebih populer ini, gagasan-gagasan Iqbal dan Adorno dapat menjadi jembatan yang mempertemukan pemikiran Timur dan Barat, sekaligus menginspirasi pembaca untuk lebih memahami bagaimana seni dapat menjadi jalan bagi spiritualitas dan kritik sosial.
Selain sebagai ekspresi akademik, buku ini juga adalah bentuk dedikasi saya untuk mendukung upaya dekolonisasi pengetahuan dalam wacana akademik global. Saya ingin menunjukkan bahwa ada nilai-nilai dari tradisi filsafat Timur yang dapat berkontribusi dalam diskusi global tentang seni dan modernitas. Sebaliknya, pandangan kritis dari Barat seperti yang diwakili Adorno juga dapat membantu kita memahami tantangan yang dihadapi oleh tradisi keagamaan di masa kini. Harapan saya, buku ini dapat menjadi referensi bagi siapa pun yang tertarik pada kajian filsafat, seni dan agama, serta menginspirasi dialog yang lebih luas di kalangan akademisi, seniman dan masyarakat umum.
Buku ini menjelaskan pembahasan tentang makrifat dalam pandangan Muhammad Nursamad Kamba yaitu sebagai pengetahuan dan pencapaian spiritual manusia dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Melalui makrifat, terjalin interaksi dan kemesraan seorang hamba kepada Tuhan. Makrifat tidak hanya sekedar pengetahuan semata, tetapi juga sebagai pengalaman. Makrifat dalam pandangan Muhammad Nursamad Kamba terumuskan dalam beberapa pengertian; pertama, makrifat adalah pengalaman tauhid seseorang atas hasil integrasi tiga potensi batin yang ada dalam diri manusia yaitu intelektual, psikis, dan spiritual. Artinya dalam meraih makrifat melalui metode pemahaman hakikat akal dan ilmu pengetahuan, pengalaman kemanunggalan (fanâ), zuhud, dan bermakrifat di jalan maiyah. Kedua, makrifat adalah penyadaran seorang hamba untuk tidak berhenti mencintai Tuhan dengan metode memahami relasi makrifat dengan mahabbah. Ketiga, makrifat adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui metode Tarekat Virtual dalam makrifat. Kemudian Muhammad Nursamad Kamba dalam mengemukakan pandangannya tentang makrifat terdapat pemikiran-pemikiran tokoh sebelumnya yang ia pertahankan, diantaranya yaitu pemikiran Junaid al-Baghdadi. Pola tasawuf yang ia ajarkan dalam pengamalan makrifat lebih mengarah pada tasawuf falsafi dan tasawuf amali.
Buku ini hadir untuk memberikan panduan lengkap bagi mereka yang hendak melangkah ke jenjang pernikahan, dimulai dari persiapan pra-nikah, prosesi akad nikah, hingga bagaimana menjalani kehidupan berumah tangga sesuai dengan tuntunan Islam. Setiap bab disusun dengan harapan dapat memberikan wawasan yang komprehensif dan aplikatif, sehingga pembaca dapat mengaplikasikan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan pernikahan mereka.
Bab pertama buku ini menjelaskan konsep dasar munakahat dalam Islam, meliputi tujuan pernikahan serta landasan hukumnya. Bab-bab berikutnya membahas persiapan pra-nikah, prosesi dan rukun pernikahan, hak dan kewajiban suami istri, hingga bagaimana menjaga komunikasi yang efektif dan keharmonisan dalam rumah tangga. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan solusi islami untuk mengatasi berbagai masalah yang mungkin timbul dalam kehidupan berumah tangga.
Buku sederhana yang ada di tangan pembaca saat ini merupakan hasil telaah yang penulis lakukan dalam melihat narasi keagamaan yang tersebar di dunia digital di Indonesia. Potret dari hal ini penting. Mengingat kehidupan dewasa ini tidak dapat dilepaskan dari kehidupan di dunia yang terkoneksikan dengan internet. Sehingga, persinggungan antara aspek keagamaan dan dunia digital menjadi satu hal yang harus dilihat manakala ingin menjelaskan pola keberagamaan masyarakat saat ini. Hal ini tentu sebagai data pendukung serta pelengkap dari kajian yang berbasis dari dunia offline.
Tulisan yang terdapat dalam buku ini merupakan hasil kumpulan tulisan penulis yang tersebar di beberapa jurnal maupun dari karya penulis sendiri yang tidak diterbitkan. Rentang tulisan yang ada dalam buku ini merupakan studi penulis dalam kurun 2020 hingga 2022. Pertama tulisan yang telah dipublikasikan oleh jurnal At-Tibyan: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir IAIN Langsa. Kedua tulisan yang dipublikasikan oleh jurnal Al-Balagh UIN Raden Mas Said Surakarta. Dan yang terakhir adalah bagian dari tesis Master yang telah diujikan pada tahun 2021 pada Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
KH. Moh. Usamah Manshur adalah sosok ideal yang berasal dari baitul ilmi, keluarga terpelajar dan ulama. Beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren Buntet, yang membentuk karakternya sebagai santri berpedoman Ahlussunah wal Jama’ah. Kiai Usamah dikenal sebagai ulama yang teguh, tidak gentar terhadap ancaman maupun caci maki demi membela Ahlussunah wal Jama’ah.
Buku ini tidak ditulis untuk memanjakan kenyamanan kekuasaan. Ia ditulis sebagai ajakan untuk berhenti sejenak. Untuk berpikir. Untuk menimbang kembali makna negara sebagai entitas moral, bukan sekadar mesin administratif. Negara yang kuat bukanlah negara yang paling cepat bereaksi, melainkan negara yang mampu menahan diri sebelum memutuskan. Negara yang besar bukanlah negara yang selalu benar, melainkan negara yang berani mengoreksi diri. Dalam tradisi keilmuan, refleksi adalah syarat kebijaksanaan. Dalam tradisi etika, refleksi adalah fondasi tanggung jawab. Dalam tradisi agama, refleksi bahkan merupakan perintah. Al Qur’an berulang kali menggugah kesadaran manusia dengan seruan yang tajam: “afala ta‘qilun, apakah tidak berakal; afala tatafakkarun, apakah tidak berpikir; afala yatadabbarun, apakah tidak merenungkan”. Seruan tersebut bukan retorika. Ia adalah teguran terhadap kelalaian intelektual dan kelumpuhan moral.
Fokus buku ini terkait konsep caring for water atau merawat air, dapat dilihat sebagai bentuk perlawanan terhadap model pembangunan dominan berbasis kapitalisme. Krisis perubahan iklim dan ketidaksetaraan yang dihasilkan dari model pembangunan saat ini telah mengungkapkan kecacatan dari pembangunan berorientasi pertumbuhan ekonomi ekspansional. Merawat air sebagai bentuk perlawanan menawarkan dinamika lain antara manusia dan alam, yang sebelumnya berdasar pada penaklukan dan penguasaaan menjadi perawatan dan kepedulian.
Air bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi juga ruang ingatan, perjuangan, dan perawatan bersama. Ngenepne Banyu menghadirkan catatan autoetnografi warga—terutama perempuan—tentang pengalaman merawat air di wilayah hulu, tengah, dan hilir Semarang Raya. Melalui kisah-kisah yang personal sekaligus reflektif, buku ini mengajak pembaca memahami air bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga soal relasi sosial, budaya, dan tanggung jawab kolektif.
“NING NANG NING GUNG GONG, Mantra sang Pendamba” adalah kumpulan 169 puisi yang ditulis oleh 43 penyair. Mereka adalah para penyair senior yang namanya sudah tidak asing lagi di jagad sastra, serta beberapa penyair muda yang produktif dalam berkarya. Terselip pula penyair disabilitas yang baru menginjak remaja. Buku ini bertutur tentang cinta yang universal. Tentang cinta pada sang Maha Cinta, tentang cinta pada negerinya, cinta pada kekasihnya, dan pada siapapun ingin diungkapkan berjuta cinta. Namun ada kalanya cinta tak selalu indah, karena sesekali cinta terungkap lewat cubitan mesra. Mari maknai cinta, dalam “NING NANG NING GUNG (dan pada akhirnya) GONG. Inilah … Mantra sang Pendamba”.
Buku ini mengisahkan tentang berbagai macam karakter dengan budi pekerti baik maupun kurang baik, yang di perankan oleh tokoh se kawanan binatang dengan harapan agar cerita yang di sampaikan oleh orang tua atau guru ke anak akan lebih mudah di mengerti, sehingga anak dapat memilih perilaku mana yang akan ia contoh.
Di sepanjang buku ini, kalian akan ditemani oleh Ale, seekor Burung Maleo yang cerdas, bijak, dan penyayang. Ale berasal dari hutan Sulawesi dan dikenal sebagai penjaga perdamaian di tengah keragaman makhluk hutan.
Ale adalah sahabatmu dalam menjelajahi cerita rakyat Nusantara. Namanya diambil dari bagian tengah kata Maleo, yang juga berarti “teman” dalam beberapa dialek timur Indonesia. Ale akan muncul di bagian cerita, memberikan catatan penting, dan membimbingmu saat menjawab pertanyaan atau merenungkan pesan cerita.
Buku ini tidak hanya berisi cerita menarik, tapi juga dilengkapi dengan fitur-fitur yang akan membuat proses belajarmu lebih seru dan bermakna.
Ada kalanya sebuah tradisi bertahan bukan karena semua orang memahami maknanya, melainkan karena masyarakat terus mempercayai bahwa di dalamnya tersimpan nilai yang layak untuk dijaga. Tradisi Nyesah Nuwo Nyuwah Damagh merupakan salah satu ruang tempat masyarakat Lampung merawat ingatan, mengekspresikan penghormatan, serta membangun hubungan spiritual dengan kehidupan, kematian, dan nilai-nilai yang diwariskan oleh para pendahulu.
Melalui pembacaan terhadap simbol, ritual, dan pengalaman spiritual masyarakat, buku ini memperlihatkan bahwa tradisi bukan sekadar rangkaian tindakan yang diulang dari masa ke masa, melainkan sebuah cara masyarakat memahami dunia, merasakan kehilangan, dan menemukan makna dalam kehidupan bersama.
Di tengah perubahan zaman, mungkin yang paling penting bukanlah mempertanyakan mengapa sebuah tradisi tetap bertahan, melainkan memahami apa yang akan hilang ketika tradisi itu tidak lagi diingat.
Petualangan dan Peruntungan Oey Soe Tjoen dalam dunia batik dimulai sejak dia menikah dengan Kwee Nettie pada tahun 1925. Sebelum pernikahan itu, keduanya merupakan pembatik di masing-masing keluarga. Namun pada masa itu, baik Oey Soe Tjoen maupun Kwee Nettie, masih menggunakan nama ayah mereka dalam batik buatannya. Pasca keduanya menikah, barulah keduanya memiliki merek batik sendiri dengan nama Oey Soe Tjoen.
Sepanjang periode Widianti Widjaja (2002-sekarang), Rumah Batik Oey Soe Tjoen menghadapi aneka rintangan yang sama sekali tak mudah diatasi: dari penurunan turis mancanegara setelah bom Bali, krisis minyak, sampai penjiplakan batik Oey Soe Tjoen. Namun dia tetap teguh dan melewati, bahkan membawa batik Oey Soe Tjoen dengan selamat sampai usia 100 tahun, sekalipun berdarah-darah.
Buku ini adalah hasil dari perjalanan panjang untuk memahami tidak hanya aspek teknis Debus, tetapi juga makna filosofis dan ontologis yang mendasari seni ini. Debus, sebuah seni bela diri yang amat mahsyur otentik Banten, bukan hanya sekadar rangkaian teknik perkelahian atau pertunjukan spektakuler tentang tradisi yang telah ada secara turun-temurun. Lebih dari itu, Debus hadir sebagai eksistensi sebuah refleksi dari keyakinan, spiritualitas dan identitas budaya yang mendalam. Dalam setiap gerakan, dalam setiap ritual, terdapat lapisan-lapisan makna yang mencerminkan cara pandang hidup dan kosmologi masyarakat Banten. Ontologi Debus hadir tidak hanya terbatas pada kajian fenomenologis atau empiris semata. Buku ini berusaha untuk menjembatani gap antara dunia material dan spiritual, menawarkan pandangan yang lebih luas tentang bagaimana Debus berfungsi sebagai jembatan antara manusia dan dimensi metafisik. Melalui penelusuran mendalam tentang asal-usul, praktik, dan filosofi Debus, penulis berharap dapat memberikan wawasan yang lebih kaya tentang bagaimana seni bela diri ini berfungsi sebagai media ekspresi kepercayaan dan identitas.
Topik dalam buku ini adalah kajian disertasi penulis yang kembali untuk dibahas dengan beberapa ekspansi topik kajian. Penulis kembali tertarik untuk mengembangkan topik kajian tentang wakaf, mengingat masih kurangnya dari kalangan dosen yang tertarik untuk membahas persoalan wakaf. Di samping itu, dalam buku ini mencoba untuk mengelaborasi kajian antara yuridis, normatif dan implementasi wakaf. Dalam dimensi yuridis wakaf sudah sangat memadai dengan lahirnya UU No. 41 Tahun 2004 tentang wakaf, sementera dalam dimensi normatif telah jelas disebutkan dalam QS Al-Imran/3:92 dan hadis dari Umar bin al-Khathab r.a. Maka wakaf dalam dimensi implementasi harus diperjuangkan, karena merupakan filantropi Islam yang dapat menopang perekonomian umat.
Dalam buku ini berisi bagaimana prinsip manajemen sebagai pondasi dasar atas keberlangsungan sebuah organisasi, praktik fungsi-fungsi manajemen, perilaku organisasi serta bagaimana potret etika bisnis menurut pandangan Islam.