Buku Islam di Gorontalo menghadirkan jejak panjang perjalanan Islam di tanah Hulontalo, sejak fase awal Oluhuta, proses Islamisasi oleh Sultan Amai, perjumpaan dengan para pedagang Muslim, hingga kiprah Sultan Eyato yang mengokohkan Islam sebagai identitas utama masyarakat. Di dalamnya juga tersaji kisah Gorontalo menghadapi ekspedisi bangsa Eropa, lahirnya spirit nasionalisme, hingga dinamika Islam kontemporer yang hidup dalam tradisi, organisasi keagamaan, dan pesantren. Dengan pendekatan historis, kultural, dan religius, buku ini mengungkap bagaimana Islam menjadi fondasi sosial sekaligus sumber inspirasi peradaban Gorontalo, yang berpijak pada kearifan lokal namun tetap terhubung dengan jaringan Islam di Nusantara dan dunia.
Menurut legenda, Islam telah masuk ke Krimea pada abad ke-7, namun mulai berkembang lebih luas pada abad ke-13. Berbagai studi terkait Islam di Krimea telah memperkaya pengetahuan kita terkait Krimea sebagai suatu ‘kawasan multikultural’ yang dihuni oleh sekian banyak suku-bangsa sejak masa lalu, dan Krimea sebagai “pusat spiritual” tidak hanya oleh Kristen Ortodoks di masa Vladimir I yang berdampak pada Kristenisasi Kekaisaran Kievan Rus, tapi juga menjadi ‘pusat kebudayaan’ etnik Tatar yang tinggal di situ, yang oleh diidentifikasi sebagai etnik Tatar Krimea—orang Tatar yang tinggal di Krimea di bawah Kekhanan Krimea selama hampir 350 tahun.
Signifikansi buku ini terdiri dari dua ranah, yakni akademis dan secara praktis. Secara akademis, buku ini memperkaya studi-studi yang telah ada terkait keislaman di Semenanjung Krimea, keislaman Tatar Krimea, atau yang saya sebut secara umum sebagai ‘Islam di Krimea’. Secara praktis, buku ini berguna sebagai informasi bagi masyarakat dunia tentang sejarah dan perkembangan Islam di kawasan semenanjung di Eropa Timur tersebut.
According to legend, Islam entered Crimea in the 7th century, but began to develop more widely in the 13th century. Studies on Islam in Crimea have enriched our knowledge of Crimea as a ‘multicultural region’ inhabited by many ethnic groups since the past, and Crimea as the ‘spiritual centre’ not only of Orthodox Christianity during the time of Vladimir I, which resulted in the Christianisation of the Kievan Rus’ Empire, but also the ‘cultural centre’ of the ethnic Tatars living there, who are identified as Crimean Tatars-the Tatars who lived in Crimea under the Crimean Khanate for almost 350 years.
The significance of this book is both academic and practical. Academically, the book enriches existing studies on Islam in the Crimean Peninsula, Crimean Tatar Islam, or what I refer to generally as ‘Islam in Crimea’. Practically speaking, this book is useful as information for the world community about the history and development of Islam in this peninsula region in Eastern Europe.
Jakub H.S lahir di sebuah desa kecil di Sidoarjo, tumbuh dari keluarga sederhana dan menempuh jalan panjang sebagai prajurit Korps Komando (KKO) Angkatan Laut.
la terjun dalam berbagai operasi penting negara: menumpas DI/TII, Operasi Trikora di Irian Barat, hingga menjaga perbatasan dalam Konfrontasi Indonesia-Malaysia.
Namun di balik seragam dan disiplin militernya, Jakub adalah sosok yang tenang, jujur dan hidup dengan nilai sederhana yang diwariskan ibunya: hidup jangan sampai merepotkan orang lain. Usai pulang bertugas, ia kembali ke desa dan memilih mengabdikan diri lewat kegiatan sosial, menjadi bagian dari masyarakat dan menata hidup sebagai warga yang membangun dari bawah.
Kisah ini merekam perjalanan seorang prajurit yang tidak mencari sorotan, tetapi meninggalkan jejak pengabdian yang dalam. Sebuah potret tentang keberanian tanpa riuh, kesetiaan pada tanah kelahiran dan perjalanan manusia biasa yang hidupnya menyimpan sejarah besar.
Melalui pengamalan yang sederhana dan tidak mengikat, pemikiran Jalan Terabas Gus Miek, diharapkan seluruh ritual keagamaan yang didirikannnya dapat diakses oleh semua kalangan, tanpa batas harta; mikin atau kaya, atau pengetahuan; bodoh atau pintar, karena bagi Gus Miek yang terpenting adalah kemauan mendekat kepada Tuhan dan konsistensi dalam menuju-Nya.
Terhadap Teologi dalam Islam, corak pemikiran Gus Miek cenderung beraliran Asy’ariah (bercorak tradisional), yang cara berfikirnya didasarkan pada metode tekstual. Hal ini dapat diketahui melalui persoalan tentang Iman dan Akhirat (Al-Īmān wa Al-Yaum Al-Ākhir), Janji dan Ancaman (Al-Wa’d Wa al-Wa’ῑd), dan Perbuatan Manusia (Af’al Al-‘Ibād) dalam saripati pemikiran dan laku Gus Miek. Gus Miek hanya menggunakan aliran Mu’tazilah (bercorak rasional), yang cara berfikirnya didasarkan pada rasio atau akal, untuk memberikan semangat bahwa penghargaan (Al-Tsawāb) atas usaha manusia menuju Tuhan (beribadah) kelak akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dengan begitu, usaha Gus Miek mengajak umatnya dari berbagai kalangan, khususnya para pelaku maksiat menjadi sukses alias ramai diikuti oleh masyarakat (umat), baik masyarakat tradisional maupun masyarakat modern.
Buku ini berisi pengalaman menjelajahi keindahan Nusantara dengan gugusan pulau yang memiliki keunikan serta keanekaragaman alam. Melalui buku ini, pembaca akan diajak untuk mengikuti jejak, untuk merasakan ketinggian, kesunyian, dan keindahan yang hanya bisa ditemukan di alam bebas khususnya dalam pendakian gunung di Nusantara. Bukan hanya kisah-kisah pribadi dan pengalaman-pengalaman pendaki terkenal yang menginspirasi, akan tetapi melalui buku ini juga ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga alam. Dibalik keindahan ini, kita memikul tanggung jawab yang besar untuk melestarikan dan melindungi alam ini agar dapat dirasakan oleh generasi selanjutnya. Buku ini juga membahas tentang panduan lengkap dan praktis persiapan, peralatan, dan sumber daya yang berguna untuk pendaki pemula. Buku ini diharapkan dapat memberikan gagasan, wawasan, inspirasi, dan pengetahuan yang bermanfaaat bagi mereka yang tertarik untuk menjelajahi gunung.
Buku ini memuat beberapa kisah nyata tentang kehidupan dan keteladanan Shaikhina KH.
Maimoen Zubair, ditulis cleh santri-santri dan abdi ndalem yang pernah belajar langsung kepada beliau: Ahmad Zunaedi, Abu Said dan Ahmad Wahyudi. Cerita-cerita ini menggambarkan momen-momen sederhana namun bermakna, seperti perhatian beliau kepada pemulung, sopir, santri sakit, hingga rasa hormat beliau kepada para tamu dan guru.
Dengan gaya bahasa yang hangat dan jujur, kisah-kisah ini mengajak pembaca menyelami pribadi seorang kiai besar yang tidak hanya alim, tetapi juga penuh kasih sayang dan perhatian. Buku ini adalah potret cinta dan pengabdian yang tulus, yang akan menginspirasi siapa pun untuk belajar menjadi lebih ikhlas, rendah hati, dan peduli terhadap sesama.
Berkaitan dengan fenomena ziarah, pada kurun waktu dua dekade terakhir ini terjadi peningkatan yang luar biasa jumlah kaum Muslim yang mengunjungi tempat tempat ziarah di Jawadan Madura. Pada buku ini, setidaknya ada beberapa wali di Kabupaten Sumenep, yang diuraikan secara singkat di buku ini sebagai bahan kajian. Seperti Asta Tinggi Sumenep, Asta Yusuf Talango, Bujuk Barambang, dan bahkan situs kuburan wali yang terbaru, Asta Panaongan Pasongsongan Sumenep. Di samping itu, juga diuraikan kisah Bujuk Raja Johar Sari, Adi Poday dan Jokotole, yang masih menjadi diskusi tentang sejarah Islam masuk tidaknya ke Keraton Sumenep, saat mereka menjabat sebagai raja.
Buku Jejak Pendidikan Ulama Hadis:Transamisi Sanad dari Haramin ke Indonesia-Malaysia (Abad XVI-XX) menelusuri Hijaz sebagai pusat jaringan keilmuan hadis yang membentuk tradisi intelektual Islam di Nusantara dan Semenanjung Melayu. Melalui kajian biografis ulama Indonesia dan Malaysia—mulai dari Syekh Nur al-Din al-Raniry dan Syekh Abdurrauf al-Singkili, dilanjutkan oleh figur penguat sanad dan otoritas hadis seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Mahfudz Tremas, Syekh Hasyim Asy’ari, dan Syekh Yasin al-Fadani, hingga ulama Malaysia seperti Syeikh Abdul Rahman Al-Kelantani, Syeikh Muhammad Idris Al-Marbawi, dan Mustafa Abdul Rahman—buku ini menampilkan kesinambungan sanad, rihlah ilmiah, dan dinamika transmisi hadis lintas generasi. Karya ini menegaskan bahwa tradisi hadis Indonesia–Malaysia berakar kuat pada jaringan global Hijaz dan berkembang secara kreatif hingga abad ke-20.
Di tengah hiruk-pikuk modernitas yang seringkali menjerumuskan manusia pada krisis makna, Kuntowijoyo melalui novel Khotbah di Atas Bukit menghadirkan pesan yang melampaui batas sastra: sebuah pencarian spiritual yang membumi, membebaskan, dan transformatif.Buku ini menyingkap dimensi terdalam dari spiritualitas dalam karya Kuntowijoyo dengan memanfaatkan pendekatan hermeneutika Gadamer dan pemikiran Seyyed Hossein Nasr. Ia mengurai bagaimana tokoh-tokoh seperti Barman, Humam, dan Popi tidak hanya hidup dalam teks, tetapi juga menghadirkan cermin perjalanan batin manusia modern: dari keterikatan duniawi, pergulatan eksistensial, hingga keberanian melepaskan diri dan berkata cukup.Lebih dari sekadar kajian akademis, buku ini adalah undangan reflektif bagi siapa saja yang merindukan kehidupan yang lebih utuh—sebuah spiritualitas yang tidak menjauh dari realitas, tetapi justru menjadi cahaya yang menuntun di tengah kegelapan zaman.Apakah kita siap berhenti sejenak, mendengar suara batin, dan menemukan kembali makna sejati hidup?
Ketahanan pangan diwujudkan oleh hasil kerja sistem ekonomi pangan yang terdiri dari sub sistem ketersediaan meliputi produksi, pasca panen dan pengolahan, sub sistem distribusi dan sub sistem konsumsi yang saling berinteraksi secara berkesinambungan. Ketiga sub system tersebut merupakan satu kesatuan yang didukung oleh adanya berbagai input sumber daya alam, kelembagaan, budaya, dan teknologi. Proses ini hanya akan berjalan dengan efisien oleh adanya partisipasi masyarakat dan fasilitasi dari pemerintah. Partisipasi masyarakat dimulai dari proses produksi, pengolahan, distribusi dan pemasaran serta jasa pelayanan dibidang pangan. Tulisan ini berusaha mengungkap sistem pengelolaan pangan di DIY, dalam hal ini adalah upaya yang dilakukan pemerintah DIY melalui BUMD PT. Taru Martani untuk menuju kedaulatan pangan di DIY secara menyeluruh. Semoga tulisan membawa manfaat bagi berbagai pihak dan menjadi bahan diskusi lebih lanjut mengenai penanganan dan pengelolaan pangan DIY ke depan.
K.H. Ahmad Sanusi adalah sosok ulama kharismatik yang tidak hanya dikenal sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai pejuang tangguh yang memiliki kontribusi luar biasa dalam pergolakan nasional. Beliau adalah representasi sempurna dari perpaduan antara keilmuan agama, kepemimpinan, dan nasionalisme yang tinggi. Jejak perjuangannya telah memberikan inspirasi bagi generasi demi generasi untuk terus menjaga nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan.
Terbitnya edisi revisi buku ini menunjukkan komitmen yang kuat dari penulis, peneliti, dan semua pihak yang terlibat untuk terus menyempurnakan dokumentasi sejarah. Revisi yang dilakukan tentu akan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dan akurat tentang sosok K.H. Ahmad Sanusi, sehingga generasi muda dapat mengenal dan meneladani perjuangan beliau dengan lebih baik.
Materi dalam buku ini membahas 2 kajian pokok yakni mengenai Legalitas Perkawinan antara Pengungsi dan Warga Negara Indonesia, serta Respons Negara dan UNHCR dalam Menanggapi Perkawinan antara Pengungsi dan Warga Negara Indonesia.
Kamus Dwibahasa Cirebon–Indonesia hadir sebagai rujukan penting bagi siapa pun yang ingin memahami, mempelajari, dan melestarikan bahasa Cirebon—sebuah identitas budaya yang tumbuh dari sejarah panjang pesisir Jawa. Disusun dengan pendekatan reseptif dan produktif, kamus ini tidak hanya membantu pembaca mencari makna kata, tetapi juga memandu mereka menggunakan kosakata dalam frasa dan kalimat yang tepat.
Dilengkapi contoh pemakaian, ragam lema dari kosakata umum hingga istilah budaya, serta ilustrasi yang informatif, kamus ini menjadi jembatan bagi pelajar, guru, peneliti, maupun masyarakat umum untuk mengenal lebih dalam kekayaan bahasa Cirebon. Ditopang oleh tata bahasa inti dan panduan pembacaan yang mudah dipahami, buku ini menegaskan bahwa bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan warisan kearifan yang layak dijaga bersama.
Sebuah kontribusi berharga untuk pendidikan, pelestarian budaya, dan upaya memperkuat identitas lokal di tengah arus globalisasi. Buku rujukan yang patut dimiliki oleh setiap pemerhati bahasa dan budaya Nusantara.
Buku ini diciptakan berdasarkan pada pemikiran bahwa sebagai masyarakat agraris yang sedang membangun, salah satu hak milik yang sangat penting bagi negara, bangsa, dan rakyat Indonesia adalah hak milik atas tanah. Hal ini dikarenakan selain setiap kegiatan yang dilakukan oleh sebagian besar rakyat Indonesia senantiasa membutuhkan dan melibatkan soal tanah, tanah pun dapat dijadikan sarana untuk mencapai kesejahteraan hidup bangsa Indonesia sehingga persoalan tanah perlu ditata dan dibuatkan perencanaan dengan hati-hati dan penuh kearifan. Sebagaimana tercantum dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang menyatakan bahwa: “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.”
Buku ini berisi tentang paparan kegiatan yang dilakukan oleh PT Phapros dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan seiring dengan perkembangan produksi bisnis yang dilakukan. Phapros berfokus pada pola kerja dan kegiatan operasional yang efisien pada semua lini bisnis, dengan memperhatikan keselarasan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Sehingga bisnis Phapros tidak hanya menghasilkan keuntungan (profit), melainkan dapat menciptakan nilai tambah untuk lingkungan (planet) dan berkontribusi kepada masyarakat (people). TJSL merupakan bagian dari komitmen Phapros untuk berperan serta dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perusahaan, komunitas setempat, masyarakat dan bagi generasi yang akan datang.