Buku ini membahas tentang keluarga sakinah di dalam surga. Buku ini berusaha memberikan gambaran tentang keluarga sakinah di surga dan nikmat yang mereka peroleh di dalamnya sebagai balasan atas iman dan amal mereka di dunia ini. Beberapa ayat yang dikaji mengambarkan orang-orang yang masuk ke surga bersama keluarganya. Ayat-ayat ini dikumpulkan dan dibahas dalam perspektif tafsir maudhui atau tematik. Yaitu mengumpulkan ayat-ayat yang berbicara tentang hal yang sama, topik yang sama, kemudian mencari tafsirnya dari kitab-kitab para ulama. Tidak banyak ayat dalam Al Quran yang berbicara khusus tentang thema ini. Ayat-ayat tersebut selanjutnya dibahas dengan mengutip penafsiran para ahli tafsir dan penulis berusaha memberi komentar seperlunya dan mengambil kesimpulan dari ayat yang dibahas tersebut.
Sejarah Samarinda bukan hanya tentang rentetan peristiwa atau perubahan zaman, melainkan juga tentang orang-orang yang telah memberikan warna dalam setiap langkah pembangunan kota ini. Salah satu tokoh yang tak bisa diabaikan dalam lembaran sejarah modern Samarinda adalah Wali Kota Andi Harun. Di masa jabatannya, Andi Harun membawa perubahan signifikan yang tak hanya mengubah wajah kota, tetapi juga menghidupkan kembali harapan warga akan masa depan yang lebih baik. Dengan visi yang jelas dan semangat tanpa henti, ia menggagas berbagai inovasi, mulai dari penataan ulang kawasan kumuh hingga pembangunan infrastruktur yang mendukung aktivitas ekonomi dan sosial kota. Samarinda kini bukan hanya kota di tepian sungai, tetapi juga simbol kebangkitan dan perubahan.
Dalam tulisan ini memberikan penjelasan tentang sejarah, pemerintahan, dan perkembangan kota Samarinda. Dari awal berdirinya hingga keberhasilan yang diraih di bawah kepemimpinan Wali Kota Andi Harun, yang menjadikan sebuah kota di tepian Sungai Mahakam mampu merajut mimpi dan merealisasikannya menjadi nyata. Buku ini memberikan sensasi menjelajahi jejak-jejak yang mengiringi transformasi Samarinda menjadi kota yang kian maju dan berkembang, seraya tetap menjaga jati dirinya sebagai kota di tepian sungai yang sarat akan makna dan harapan.
Media sosial, santri dan dunia digital ibarat dua mata pisau yang satu sisi menjadi sarana dakwah, belajar, dan memperluas wawasan. Sedangkan di sisi lain, ia juga dapat memicu kesalahpahaman, konflik, perasaan baper hingga melemahkan adab dan akhlak bila tidak disikapi dengan kedewasaan. Buku ini hadir untuk mengajak para santri agar tetap berpegang teguh pada nilai-nilai pesantren.
Kami berharap buku ini dapat menjadi teman refleksi bagi para santri, pendidik, dan generasi muda Islam dalam membangun karakter santri digital yang tidak mudah tersulut emosi, tidak reaktif terhadap provokasi, serta mampu menjadikan teknologi sebagai sarana kebaikan. Semoga buku ini membawa manfaat, menambah kesadaran, dan menjadi bagian dari upaya melahirkan santri yang kuat iman, luas wawasan, dan agen dakwah yang tangguh di era digital
Buku ini mengajak pembaca menyusuri perjalanan para Penghayat Sapta Darma yang memaknai spiritualitas sebagai jalan untuk membangun keseimbangan jiwa. Melalui pengalaman mereka, pembaca akan menemukan bahwa ketenangan bukanlah keadaan tanpa persoalan, melainkan proses panjang untuk berdamai dengan diri sendiri, mengelola emosi, dan menemukan makna di balik setiap peristiwa kehidupan.
Berangkat dari penelitian yang mendalam, buku ini menghadirkan kisah-kisah kemanusiaan yang hangat dan reflektif. Pembahasannya tidak hanya memperkenalkan ajaran Sapta Darma, tetapi juga mengajak kita melihat bahwa di balik setiap jalan spiritual terdapat harapan yang sama: hidup dengan hati yang lebih tenang, jiwa yang lebih seimbang, dan hubungan yang lebih bermakna dengan sesama maupun dengan Sang Pencipta.
Buku ini hadir sebagai upaya untuk menggali dan memahami lebih dalam kearifan lokal yang terkandung dalam falsafah Buton Sara Pataanguna, serta relevansinya dengan nilai-nilai akhlak dalam Islam. Falsafah Buton Sara Pataanguna merupakan warisan budaya luhur yang mengandung nilai-nilai luhur tentang tanggung jawab manusia terhadap Tuhan, alam, dan sesama. Nilai-nilai ini memiliki keselarasan yang erat dengan nilai-nilai akhlak dalam Islam, yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan.
Buku ini terdiri dari lima bab yang membahas secara komprehensif tentang falsafah Buton Sara Pataanguna dan nilai-nilai akhlak dalam Islam. Bab pertama memberikan pengantar tentang falsafah Buton, bab kedua membahas nilai-nilai akhlak dan tanggung jawab manusia, bab ketiga mengulas secara umum tentang falsafah Buton Sara Pataanguna, bab keempat membahas tanggung jawab dalam falsafah Buton Sara Pataanguna dan keselarasan dengan nilai-nilai akhlak dalam Islam, dan bab kelima merupakan penutup.
Buku ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi pengembangan kajian tentang kearifan lokal dan nilai-nilai akhlak. Selain itu, buku ini juga diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat Buton pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, untuk mengamalkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.
Buku ini membahas tentang manajemen sarana dan prasarana yang baik agar dapat memaksimalkan penggunaannya. Dalam buku ini, pembaca akan menemukan berbagai informasi penting tentang sarana dan prasarana olahraga, termasuk perencanaan, pengadaan, dan pengelolaannya. Semoga buku ini dapat memberikan wawasan baru dan bermanfaat bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih dalam tentang sarana dan prasarana olahraga. Tujuan penulis membuat buku ini adalah untuk membantu menambah wawasan dan memahami lebih dalam tentang sarana & prasarana olahraga. Selain itu, tujuan penulisan buku ini yaitu untuk memberikan referensi tambahan khususnya pada perencanaan dan telaah kurikulum pembelajaran olahraga.
Buku berjudul Saro-saro: Refleksi Budaya Etnik Ternate dalam Ungkapan Pernikahan menyajikan pengetahuan praktis mengenai ungkapan tuturan masyarakat Ternate dalam peristiwa perkawinan adat. Salah satu rangkaian ritual dalam pernikahan adat Ternate yang disebut dengan ritual saro-saro. Yang dimaksud dalam ungkapan di sini adalah ungkapan tuturan lisan dalam ritual saro-saro dan bahasa nonverbal serta material makanan yang digunakan dalam ritual saro-saro.
Paparan data pengetahuan dalam buku ini merupakan kajian Linguistik Antopologi. Hasil kajian ini menambah keilmuan di bidang budaya, khususnya kajian budaya melalui bahasa. Tuturan bahasa yang dikaji dalam penelitian ini adalah tuturan ungkapan dalam tradisi budaya. Selain tuturan ungkapan verbal, buku ini juga menyajikan data penelitian dan analisis bahasa nonverbal dan simbol makanan dalam ritual makan saro.
Satu Cermin Seribu Bayang mengajak pembaca memandang kehidupan melalui lensa yang lebih jernih. Dari hal-hal sederhana sepasang kacamata, secangkir kopi, perjalanan sunyi, hingga hiruk-pikuk media sosial Farid Mustofa menghadirkan refleksi yang menghubungkan keseharian dengan filsafat, tasawuf, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam puluhan esai yang hangat sekaligus kritis, pembaca diajak menyelami makna di balik berbagai fenomena: spiritualitas, agama, konsumerisme, seni, sejarah, pendidikan, hingga dinamika kehidupan modern. Setiap tulisan menjadi cermin untuk mengenali diri, sekaligus bayangan yang memperlihatkan wajah masyarakat dan zaman yang terus berubah.
Dengan bahasa yang mengalir, kaya metafora, dan dekat dengan pengalaman sehari-hari, buku ini tidak menawarkan jawaban-jawaban final, melainkan ruang perenungan. Sebab, sering kali kebijaksanaan lahir bukan dari hal-hal yang luar biasa, melainkan dari keberanian melihat yang biasa dengan cara yang berbeda.
Satu Cermin Seribu Bayang adalah teman perjalanan bagi siapa pun yang ingin menemukan makna, merawat kejernihan batin, dan memandang hidup dengan mata yang lebih arif.
Semua cerita di dalam Saur Derana bukanlah sekadar kembang gula peristiwa maupun cerita imajinatif saja, melainkan sederetan kisah yang mengakomodir kebutuhan kita akan bacaan yang terasa lekat, relevan, dan memberikan paradigma baru, utamanya bagi suara kaum perempuan. Kosongkan sejenak pikiran dan luangkanlah waktu sejenak untuk memberikan konsen pada setiap kisah yang akan Anda baca. Persilakan mereka meretas pikiran Anda dengan kegelisahan yang selama ini dibungkam.
Di tengah derasnya arus modernitas yang kerap mengikis nilai-nilai luhur kehidupan, masih tersimpan mutiara kebijaksanaan yang diwariskan para leluhur. Segara Makrifat hadir sebagai ikhtiar untuk menyelami samudra makna yang memadukan kearifan falsafah Jawa dengan cahaya petunjuk Al-Qur’an dalam membangun karakter manusia yang berakhlak mulia.
Melalui kisah-kisah reflektif yang terinspirasi dari pitutur Jawa seperti Kebo Kabotan Sungu, Kebo Nusu Gudel, Kenes Ora Ethes, Mikul Duwur Mendhem Jero, dan berbagai ungkapan luhur lainnya, buku ini mengajak pembaca memahami nilai-nilai kerendahan hati, kejujuran, tanggung jawab, bakti kepada orang tua, semangat belajar, serta pentingnya menyelaraskan ucapan dan perbuatan. Setiap kisah diperkaya dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis yang meneguhkan bahwa kearifan lokal dan ajaran Islam berjalan seiring dalam membentuk insan yang beradab.
Buku ini bukan sekadar kumpulan cerita dan petuah, melainkan cermin untuk berkaca, ruang untuk merenung, dan panduan untuk menapaki kehidupan dengan hati yang lebih jernih. Sangat relevan bagi pendidik, orang tua, pelajar, serta siapa pun yang mendambakan pendidikan karakter yang berakar pada budaya dan spiritualitas.
Segara Makrifat mengingatkan kita bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada kedudukan, harta, atau kepandaian semata, melainkan pada kemampuan menjaga keseimbangan antara ilmu, iman, akhlak, dan kearifan hidup. Sebab, dari samudra makrifat itulah lahir manusia yang tidak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga luhur budinya.
Buku ini menggali fenomena urbanisasi dan segregasi sosial dalam konteks perkembangan perkotaan modern, dengan fokus pada Gading Serpong sebagai studi kasus. Penulis menjelaskan bagaimana urbanisasi mempengaruhi struktur masyarakat dan menciptakan kesenjangan sosial yang mendalam. Konsep inklusivitas dan modal sosial diuraikan sebagai elemen penting untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan harmonis di tengah proses perubahan urban yang pesat. Bagian pertama buku ini membahas tentang masyarakat, inklusivitas, dan modal sosial yang membentuk interaksi sosial dalam perkotaan. Selanjutnya, dibahas tentang marginalitas, ruang, dan toleransi, yang menjadi tantangan dalam menciptakan lingkungan yang ramah bagi semua lapisan masyarakat. Toleransi dan ketahanan sosial (resiliensi) menjadi kunci dalam mempertahankan keharmonisan dalam masyarakat yang semakin plural. Buku ini kemudian berfokus pada Gading Serpong, sebuah kota yang berkembang pesat, dan bagaimana segregasi serta polarisasi sosial terjadi di sana. Penulis juga mengungkap peran broker dalam memperburuk atau mungkin memperbaiki kondisi sosial tersebut. Di akhir, buku ini membahas pentingnya inklusivitas dan ketahanan sosial dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut di Gading Serpong.
Bagaimana Islam tumbuh dan membentuk peradaban di Nusantara? Siapa saja bangsa, ulama, saudagar, dan tokoh yang berperan dalam perjalanan panjang tersebut?
Buku Sejarah Emas Islam di Nusantara karya Iwan Mahmud Al-Fattah mengajak pembaca menelusuri jejak panjang perkembangan Islam di Nusantara, dari jalur perdagangan maritim dan bandar-bandar niaga hingga lahirnya kesultanan, jaringan ulama, serta dinamika sosial, budaya, dan politik yang mewarnai sejarahnya.
Lebih dari sekadar mengulas asal-usul kedatangan Islam, buku ini menghadirkan beragam perspektif tentang peran bangsa Arab, India, Persia, China, Turki, hingga dzurriyyah Rasulullah saw. dalam membentuk wajah Islam di Nusantara. Pembahasannya juga menyoroti peran perempuan dalam sejarah Islam, hubungan diplomatik lintas wilayah, serta pertemuan nilai-nilai keislaman dengan tradisi lokal.
Dengan cakupan pembahasan yang luas, buku ini menjadi ajakan untuk melihat kembali akar peradaban Islam di Nusantara, memahami keragaman yang membentuknya, dan mengenali kontribusinya dalam perjalanan sejarah bangsa.
Sebuah bacaan berharga bagi siapa pun yang ingin menyelami sejarah Islam di Nusantara dan menemukan kembali jejak peradaban yang membentuk identitas kita hari ini.
Buku ini menjadi sumber referensi yang bisa digunakan dengan baik oleh mahasiswa dan juga pembaca. Selain itu, buku ini juga bertujuan untuk menambah wawasan dalam pembelajaran khususnya untuk pembelajaran Sejarah Nasional Indonesia bagi para pembaca dan juga bagi penulis. Pembahasan dalam buku mengacu pada materi yang ada dalam Rencana Pembelajaran Semester pada mata kuliah Sejarah Nasional Indonesia. Materi yang dijabarkan di buku ini meliputi teori masuknya Hindu, Budha dan Islam serta sejarah kerajaan-kerajaan Hindu, Budha dan Islam yang ada di Indonesia.
Buku ini disusun secara sistematis dalam 16 bab yang dirancang untuk membimbing pembaca memahami evolusi pemikiran ekonomi Islam secara kronologis dan tematik. Dimulai dari pembahasan konsep dasar dan metodologi, kemudian menyelami kondisi ekonomi masyarakat Arab Pra-Islam sebagai konteks historis awal. Pembahasan kemudian bergerak menuju fondasi utama yang diletakkan pada masa Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin, yang menjadi model ideal praktik ekonomi Islam.
Pembaca akan diajak menjelajahi masa keemasan peradaban Islam, di mana para ilmuwan seperti Abu Yusuf, Al-Mawardi, Al-Ghazali, Ibnu Taimiyyah, dan Ibnu Khaldun mencurahkan pemikiran mereka yang sangat visioner, tidak hanya untuk zamannya tetapi juga relevan untuk dikaji pada masa kini. Periode kemunduran dan stagnasi pun tidak luput dari pembahasan sebagai sebuah pelajaran berharga, sebelum akhirnya menyaksikan kebangkitan kembali dan institutionalisasi ekonomi Islam pada abad ke-20 dan ke-21, dengan lahirnya bank syariah, lembaga keuangan modern, dan standardisasi global.
Ibnu Sina bukan hanya dikenal sebagai bapak kedokteran dunia, tetapi juga sebagai pemikir besar yang mewariskan gagasan pendidikan dan kepemimpinan yang melampaui zamannya. Buku ini mengajak pembaca menelusuri perjalanan hidup, karya-karya monumental, filsafat, tasawuf, hingga konsep pendidikan yang dibangun oleh sang maestro ilmu pengetahuan Islam. Lebih dari itu, buku ini menghubungkan pemikiran Ibnu Sina dengan prinsip-prinsip manajemen dan kepemimpinan Islam yang relevan bagi pengelolaan lembaga pendidikan masa kini. Disajikan secara sistematis dan komprehensif, buku ini menjadi referensi berharga bagi mahasiswa, pendidik, akademisi, serta siapa saja yang ingin memahami bagaimana ilmu, karakter, dan kepemimpinan dapat berpadu dalam membangun peradaban yang unggul dan berlandaskan nilai-nilai Islam.
Buku ini disusun untuk memberikan wawasan yang komprehensif mengenai perkembangan peradaban Islam serta pemikiran pendidikan Islam dari masa klasik hingga era modern. Buku ini terbagi menjadi dua bagian utama yang masing-masing mengulas aspek yang berbeda namun saling melengkapi.
Bagian Pertama dari buku ini berfokus pada Sejarah Peradaban Islam. Bab I hingga Bab VII membahas secara mendalam sejarah peradaban Islam mulai dari masa Rasulullah SAW dan para sahabat, perkembangan pendidikan Islam pada zaman kekhalifahan, hingga sistem pendidikan tradisional dan modernisasi dalam pemikiran pendidikan Islam. Setiap bab dirancang untuk memberikan pemahaman yang holistik tentang bagaimana peradaban Islam berkembang dan berkontribusi terhadap pembentukan pendidikan Islam yang kita kenal saat ini. Bagian Kedua menguraikan Sejarah Pemikiran Pendidikan Islam dari berbagai perspektif ulama dan tokoh penting. Bab VIII hingga Bab XVIII mengulas pemikiran pendidikan Islam menurut Rasulullah SAW, para sahabat, serta para ulama klasik dan kontemporer, seperti Imam Ibnu Sina, Imam Ibnu Khaldun, Imam Muhammad Abduh, hingga tokoh-tokoh modern seperti Imam Tariq Ramadan dan Syafruddin Amir. Bagian ini bertujuan untuk menelusuri evolusi pemikiran pendidikan Islam yang terus berkembang dan relevan hingga masa kini.
Buku ini diharapkan dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi mahasiswa, akademisi, serta semua pembaca yang tertarik untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang sejarah peradaban dan pemikiran pendidikan Islam.