Negara yang Enggan Merenung Ketika Kebijakan Dilahirkan Tanpa Perenungan

Buku ini tidak ditulis untuk memanjakan kenyamanan kekuasaan. Ia ditulis sebagai ajakan untuk berhenti sejenak. Untuk berpikir. Untuk menimbang kembali makna negara sebagai entitas moral, bukan sekadar mesin administratif. Negara yang kuat bukanlah negara yang paling cepat bereaksi, melainkan negara yang mampu menahan diri sebelum memutuskan. Negara yang besar bukanlah negara yang selalu benar, melainkan negara yang berani mengoreksi diri. Dalam tradisi keilmuan, refleksi adalah syarat kebijaksanaan. Dalam tradisi etika, refleksi adalah fondasi tanggung jawab. Dalam tradisi agama, refleksi bahkan merupakan perintah. Al Qur’an berulang kali menggugah kesadaran manusia dengan seruan yang tajam: “afala ta‘qilun, apakah tidak berakal; afala tatafakkarun, apakah tidak berpikir; afala yatadabbarun, apakah tidak merenungkan”. Seruan tersebut bukan retorika. Ia adalah teguran terhadap kelalaian intelektual dan kelumpuhan moral.

Add to Wishlist

Deskripsi

Negara yang Enggan Merenung Ketika Kebijakan Dilahirkan Tanpa Perenungan

Penulis : Dr. Ir. Dwinanta Nugroho, S.Si., M.A.P., M.T

Editor : : Dina Risa Hapsari, Salsabila Jeny Prasanti

Penyunting : Shelvia Agustina, Citra Amalindah

Tata Letak Isi : Salsabila Balqis Wijaya

Design Cover : Natasya Cynta Laura Bela

Cetakan Pertama, Juli 2026

Diterbitkan oleh: MATA KATA INSPIRASI

xxvi + 702 halaman; 15,5 cm x 23 cm

ISBN: PROSES